Jumat, 22 Maret 2013

Asfiksia Neonatorum

BATASAN :
Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernafas secara spontan dan adekuat.
 PATOFISOLOGI :
Dapat disebabkan oleh semua keadaan yang menyebabkan gangguan pertukaran dan O2 sehngga berakibat :
*  O2 tidak cukup dalam darah, disebut hipoksia
*  CO2 tertimbun dalam darah, disebut hiperkapnea
Akibatnya dapat menyebabkan asidosis tipe respiratorik atau campuran dengan asidosis metabolik karena mengalami metabolisme yang anaerob. Juga dapat terjadi hipoglikemia.

GEJALA KLINIK :
*  Pernafasan tergnggu
*  Detik jantung mengurang
*  Refleks / respons bayi melemah
*  Tonus otot menurun
*  Warna kulit biru atau pucat

DIAGNOSIS :
Dengan menilai skor Apgar pada menit ke-1. Hasil skor Apgar :
q  0 – 3   : Asfiksia berat
q  4 – 6   : Asfiksia sedang
q  7 – 10 : Normal



DIAGNOSA BANDING :
Tidak ada
Pemantauan : bila skor Apgar 5 menit masih kurang dari 7, penilaian dilanjutkan setiap 5 menit, sampai skor mencapai 7.

PENATALAKSANAAN :
Persiapan :
Mengenai bayi resiko yang akan dilahirkan, menyiapkan obat, dan memeriksa alat yang akan digunakan :

* alat penghisap lendir (jangan listrik), sungkup
* tabung oksigen yang terisi
* laringoskop dengan baterai yang siap pakai, endotrachheal tube untuk premature ID 2,5 mm, untuk cukup bulan ID 3,5 mm
* handuk, gunting, penjepit tali pusat semua steril, Natrium Bicarbonat

Pengelolaan (Lihat Algoritma)

I.       PENGELOLAAN BAYI BARU LAHIR

      Sebelum bayi lahir, penolong hendaknya menyiapkan tempat yang hangat (infant warmer). Meja pertolongan harus BHK (Bersih, Hangat, dan Kering) untuk mencegah hipotermi. Kain disediakan 3 buah.
     Pengelolaan bayi baru lahir perlu langkah awal dan sebelumnya, perlu melihat dengan cepat, apakah :
  1. Ketuban bercampur mekonem
  2. Bayi cukup bulan
  3. Bayi menangis kuat
  4. Tonus otot kuat
  5. Warna kulit kemerahan
Tujuan LANGKAH AWAL
*Mencegah kehilangan panas
*  Membuat jalan nafas terbuka
*  Menilai bayi apabila perlu bantuan nafas
*  Memulai pernafasan
Cara langkah awal :
  1. Hangatkan bayi baru lahir
  2. Posisikan kepala bayi yang benar
  3. Isap lendir dari mulut kemudian hidung
  4. Keringkan tubuh bayi dan mengganti selimut tapi rangsangan tidak diberikan
  5. Atur posisi kembali
  6. Penilaian bayi apakah perlu bantuan nafas
1.      Cara menghangatkan bayi baru lahir
Alat pemancar panas telah diaktifkan sebelumnya, sehingga bayi mendapat tempat yang hangat. Setelah bayi lahir, letakkan pada infant warmer, keringkan dengan kain.
2.      Posisikan kepala bayi yang lama, agar membuat jalan nafas terbuka
*  Posisi kepala bayi diletakkan sedikit ekstensi agar jalan nafas terbuka
 Bila perlu diganjal dengan handuk 2-3 cm. Bila lendir terlalu banyak, miringkan kepala bayi agar lendir menumpuk di mulut bukan di faring agar penghisapan mudah dikerjakan.
*  Bayi lahir bersihkan jalan nafas mulai dari mulut disusul hidung.
*  Apabila ketuban tercampur meconeum, penghisapan sejak kepala terlihat pada jalan lahir, bila bayi depresi pernafasan, penghisapan dengan endotracheal tube. ( pipa ET )

3.      Isap lendir dan mulut kemudian hidung
Perhatian : pada waktu menghisap mulut jangan terlalu dalam dan keras karena dapat menyebabkan refleks N. vagus yang dapat menyebabkan bradikardi dan apnea. Bila memakai mesin hisap, tekanan tidak boleh melebihi 100 mmHg tekanan Negatif.
Bila ketuban tidak tercampur meconeum, penghisapan cukup dari mulut dan hidung saja. Bila ketuban keruh kental mekoneal, penghisapan dari trachea. Bagi kebanyakan bayi, dengan penghisapan lendir dari mulut dan hidung sudah cukup merangsang untuk menangis.



Keterangan :
Mekoneum encer adalah sejumlah sedikit mekoneum yang dikeluarkan oleh janin sebelum lahir, hanya mewarnai cairan amnion tanpa terlihat partikel Mekoneum. Cairan tersebut sebagai air ketuban yang diwarnai mekoneum.
Mekoneum kental, keruh adalah amnion yang banyak mengandung partikel mekoneum, hal ini sangat berbahaya karena beresiko terjadinya aspirasi, da dapat mengancam jiwa bayi karena dapat menimbulkan MAS atau mekoneum Aspiration Syndrome yang pada akhirnya dapat menimbulkan gagal nafas.
Bayi bugar adalah bayi dengan tangis kuat, tonus baik, detik jantung > 100 x / menit.
Kapan dilakukan penghisapan mekoneum yang kental, keruh?
*  Pada saat kepala lahir
*  Setelah bayi lahir seluruhnya

Pada saat kepala lahir

Pada semua bayi yang telah mengeluarkan mekoneum segera setelah sebelum dilahirkan, pembersihan jalan nafas dilakukan dengan kateter penghisap nomor 10 F atau lebih, karena partikel mekonium sangat besar. Hisap mulut, faring dan hidung sampai bersih.

Setelah lahir

Pada semua bayi dengan mekonium kental dan atau depresi segera setelah lahir letakkan di bawah alat pemancar panas. Sebelum dikeringkan ambil dua langkah :
a.       Lanjutkan penghisapan mulut dan faring usahakan dengan pandangan langsung.
b.      Bila ada sarana dan tenaga medis, lakukan intubasi endotrakeal untuk menghisap mekoneum pada saluran nafas bagian bawah, sambil menghisap dengan tekanan negatif 100 mm Hg sambil menarik endotrakheal keluar. Hisapan tidak boleh melebihi 5 detik. Jangan memasukkan kateter ke dalam ET karena partikel mekonium besar sehingga mekoneum tidak dapat masuk ke dalam kateter.
Kadang-kadang ketuban keruh kental baru diketahui pada saat akan lahir. Oleh karena itu sangatlah penting pada setiap persalinan, alat dan obat harus disediakan lengkap tanpa melihat bayi yang akan dilahirkan normal atau tidak.
1.      Keringkan tubuh bayi
Keringkan dengan selimut, kemudian ganti dengan kain yang baru, untuk mencegah hipotermi. Mengeringkan bayi pada dasarnya dapat merupakan rangsangan untuk bayi, dan hal ini bagi kebanyakan bayi sudah memadai untuk memulai pernafasan. Namun ada beberapa bayi yang belum memadai, dapat diberikan rangsangan taktil.
Ada 2 cara rangsangan taktil yang cukup memadai :
 Menepuk atau menyentil kaki bayi
 Menggosok punggung bayi
2.      Atur posisi kembali dan evaluasi, bila tidak menangis mulailah Bantu pernapasan
3.      Menilai bayi
Penilaian Bayi dilakukan berdasarkan 3 gejala yang sangat penting untuk kelanjutan hidup bayi yaitu
*  Usaha bernafas
*  Frekuensi denyut jantung
*  Warna kulit

Memulai pernafasan

Langkah awal cukup dilakukan selama 30 detik. Bila bayi belum ada usaha bernafas, kita harus segera melakukan resusitasi dengan tekanan positip (VTP = Ventilasi Tekanan Positif) dengan sungkup.
PENGELOLAAN BAYI ASFIKSIA
Terdapat 3 variabel untuk menilai keberhasilan resusitasi bayi asfiksia :
a.       Pernafasan bayi
b.      Frekuensi  denyut jantung
c.       Warna kulit
a.        Pernafasan bayi
       Bila usaha bernafas bayi tidak adekuat, harus dilakukan bantuan nafas dengan VTP selama 30 detik, kemudian dievaluasi denyut jantung.
       Bila detik jantung > 100x/menit VTP stop secara bertahap
       Bila detik jantung  100 x/menit, VTP diteruskan
b.      Frekuensi denyut jantung
       Penghitungan denyut jantung cukup 6 detik, dikalikan 10.
       Hasil ³ 100x /menit dan nafas bayi spontan, VTP dihentikan dan evaluasi warna kulit.
       Hasil < 100x /menit VTP teruskan
       Hasil [ 80x/menit pijat jantung, VTP diteruskan
                   Pemberian pijat jantung harus selalu diikuti VTP agar darah yang beredar,
                  kaya dengan oksigen 
c.       Warna kulit
       Bila warna kulit biru karena sianosis sentral, berikan oksigen terus. Bila kemerahan atau sianosis perifer observasi ketat.
       Sianosis Sentral : kebiruan di seluruh tubuh termasuk mukosa / selaput lendir, disebabkan kadar oksigen yang rendah dalam darah.
       Sianosis Perifer : sianosis pada ekstremitas saja, karena aliran darah ke ekstremitas berkurang. Disebut juga Akrosianosis.
       Kompresi dada / pijat jantung
       Indikasi penekanan dda adalah apabila dengan ventilasi tekanan positif dengan oksigen 100% selama 30 detik, frekuensi jantung £ 60 x / menit. Lokasi penekanan pada 1/3 bagian bawah sternum.
Lakukan pijat jantung disertai VTP, bila 30 detik belum ada perbaikan, frekuensi detik jantung, dapat mulai diberikan obat-obatan. Frekuensi penekanan dada 3 kali penekanan, satu kali VTP


Keterangan :

*  Epinephrine / Adrenalin 0,1 – 0,3 ml/kg IV atau Intra Tracheal dapat diulang 3-5 menit kemudian kalau perlu. Bila denyut jantung 100 x / menit pemberian stop

*  Natrium Bikarbonat 2 Meq / kg  IV  pelan-pelan, selama 2 menit

*  Volume Ekspander dapat berupa : darah, albumin saline, NaCl, fisiologis, RL

Apabila selama 30 menit dilakukan resusitasi dengan benar bayi tetap tidak ada respons, resusitasi dapat dihentikan.




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Dalam Lingkaran Kami