Jumat, 29 Maret 2013

Berbagai Pengalaman Pelaksanaan dan Investasi Gizi


 Awal Sehat Untuk Hidup Sehat, disingkat ASUH adalah suatu pendekatan yang dirancang untuk meningkatkan kesehatan ibu, bayi dan balita. ASUH dilaksanakan di propinsi Jawa Timur (Blitar, Kediri, Pasuruan dan Mojokerto) dan Jawa Barat (Cianjur, Cirebon, Karawang dan Ciamis). Pengalaman yang didapat dari pelaksanaan ASUH kedua propinsi tersebut akan dipakai sebagai acuan dalam menggulirkan (replikasi) ASUH ke propinsi dan kabupaten/kota lain.  Tujuan umum program ini adalah meningkatkan status kesehatan dan gizi ibu, bayi, dan balita melalui pemberdayaan keluarga dan masyarakat. Secara khusus berupaya untuk :
a.  Meningkatkan kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir
b.  Meningkatkan kesehatan bayi dan anak balita (1-59 bulan)
c.  Meningkatkan kemampuan Bidan di Desa dalam berkomunikasi dan melaksanakan pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA) yang bermutu di masyarakat
d.  Meningkatkan kemandirian serta daya dukung keluarga dan masyarakat dalam persiapan persalinan dan perawatan kesehatan ibu nifas, bayi baru lahir, dan anak balita.

Penelitian yang dilaksanakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi dan Makanan, Depkes RI bekerjasama dengan University of Manitoba Canada, dengan dukungan para ahli penyuluhan, komunikasi, dan antropologi dari FISIP-UI, dan Sekolah Pasca Sarjana IPB, selama 5 tahun (tahun 1993 sampai 1998) di Kabupaten Bogor, Sukabumi, Wonosobo dan Temanggung telah mendapatkan pengalaman nyata melalui penyuluhan gizi-kesehatan yang menuju perubahan perilaku sehat sebagai bagian dari upaya memecahkan masalah gizi-kesehatan, dan sebagai complement dari pelayanan medis yang sekarang sedang giat dilaksanakan (Husaini, 2001).

Fokus yang diteliti adalah mengenai perilaku sehat selama hamil, persiapan dalam menghadapi persalinan dan perilaku memberi makan bayi yang relevan dengan keadaan sekarang dan dengan upaya menurunkan AKI, AKB, BBLR, dan menaikkan status gizi masyarakat.  Pada penelitian ini telah dikembangkan sistim pelayanan informasi dari bawah ke atas, berdasarkan kebutuhan konkret yang dirasakan masyarakat dengan teknik yang komunikatif, mudah dipahami dan dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari.

Materi penyuluhan harus bervariasi dan dapat menjawab masalah yang dihadapi khalayak sasaran, serta masyarakat mampu menerapkan informasi yang diterima.  Hal ini ada kaitannya dengan yang diungkapkan oleh Burger tentang mitos pemusatan.  Mitos pemusatan ini cenderung untuk merencanakan segala sesuatu dari atas karena menganggap orang atas adalah orang terdidik, dan karena pendidikannya dapat lebih tepat menilai kebutuhan masyarakat yang harus dipenuhi.  Akibatnya paket penyuluhan menjadi sesuatu yang asing bagi masyarakat.  Masyarakat lalu enggan menerapkan inovasi-inovasi penyuluhan karena tidak sesuai dengan kebutuhan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Dalam Lingkaran Kami