Kamis, 28 Maret 2013

Tujuan dan Sinerginya Dalam Pembangunan Gizi


Dalam pemantauan pertumbuhan anak berbasis klinik, ada beberapa masalah penting yang dapat merupakan faktor penentu gagalnya program PSG.  Adapun faktor-faktor tersebut adalah : (1) Frekuensi kehadiran menunjukkan masih adanya ibu yang menimbangkan anaknya tidak secara rutin. Disamping itu ibu tidak mau menimbangkan anaknya karena takut ketularan penyakit dari kantong yang digunakan untuk penimbangan anak. (2) Timbangan yang digunakan tidak pernah diperiksa ketepatannya. (3) Pada waktu penimbangan tidak dilakukan perintah agar anak mengenakan pakaian seminim mungkin. Hal ini dilakukan agar anak tidak menangis. (4) Penimbangan tidak dibaca pada 100 gram terdekat.(5) Pada pencatatan berat badan (BB) kadang-kadang diisi tidak sesuai dengan umur. Demikian juga titik-titik BB tidak dihubungkan.(6) Tidak dilakukan konsultasi tentang BB maupun kurva pertumbuhan anak kepada ibu.

Sementara pada beberapa Posyandu di perdesaan masih banyak kejadian seperti : (1) KMS ditinggal di Posyandu atas permintaan ibu-ibu karena takut hilang.(2) Tidak ada tindak lanjut bila ada pertumbuhan terhambat kecuali pada anak dengan status BGM. (3) Sistem rujukan maupun PMT hanya untuk BGM dengan kelainan atau komplikasi.(4) Beberapa Posyandu pengobatan maupun imunisasi dilakukan di tempat bidan desa.(5) Penggunaan sistem informasi hanya merupakan sekedar laporan tidak digunakan ditempat.

Sampai saat ini pelaksanaan pemantauan status gizi dan kesehatan anak masih terfokus pada Posyandu.  Namun belakangan ini kepopuleran Posyandu mulai menurun seiring dengan kesibukan dan keterbatasan waktu para kadernya.  Akibatnya kegiatan Posyandu yang semula terdiri dari lima meja menjadi seadanya meja di tempat Posyandu dilaksanakan.

 ‘Tempat’ (=Puskesmas, Polindes, dan Posyandu) adalah jalur yang digunakan untuk menyalurkan produk (dalam hal ini Growth Monitoring and Promotion = GMP) kepada masyarakat dan tempat dimana ‘GMP’ dilaksanakan.  Penyediaan dan pelaksanaan ‘GMP’ tidak hanya melibatkan sistem pengadaan peraturan dan kebijakan, tapi juga membutuhkan upaya tenaga kesehatan (Nakes) dan Kader; kerabat / keluarga dan tetangga pengguna produk ‘GMP’.  Selain ‘Tempat’ yang berupa Puskesmas, Polindes, dan Posyandu, jalur yang digunakan untuk menyalurkan produk (GMP) kepada masyarakat ini dapat berupa ‘Orang’ seperti dukun bayi yang membagikan oralit; atau Guru SD yang memberikan imunisasi (USAID, 1990). 

Dengan adanya krisis ekonomi maka perlu pemulihan fungsi utama Posyandu, yaitu kegiatan memonitor pertumbuhan anak Balita melalui pemantauan peningkatan berat badan anak.  Jadi bukan untuk pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA) yang banyak ragam atau jenis pelayanan yang semuanya akan membuat kejenuhan dan kerepotan para kader Posyandu.  Sebaliknya para kader Posyandu dituntut untuk mampu menangani masalah kesakitan ‘akut’ pada anak Balita sehingga mereka harus mengetahui bagaimana managemen anak balita yang sakit secara terpadu di Posyandu dan Polindes tempat Bidan Desa melaksanakan tugas pelayanannya.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Dalam Lingkaran Kami