Senin, 08 April 2013

Kebutuhan Nutrisi Bayi pada Hari ke 7-10 Post Natal

Periode ini merupakan masa antara lahir sampai dimulainya proses penambahan berat badan bayi, umumnya terjadi pada hari ke 7 – 10 post natal. Pada periode ini ditandai dengan adanya resiko tinggi untuk mengalami ketidak seimbangan (overload atau defisit) cairan, elektrolit dan zat-zat metabolik. Masukan nutrisi diberikan secara kombinasi parenteral dan enteral. Tingkat kebutuhan nutrisi pada periode ini sangat bervariasi tergantung dari perbedaan maturitas bayi, variabilitas toleransi enteral dan adanya penyakit-penyakit masa neonatal. Konsekuensinya, selama periode ini tidak dapat dibuat rekomendasi yang berbasis bukti spesifik mengenai komposisi formula dan kapan saat yang tepat sebagai awal pemberian minum. 

Kesepakatan umum hanyalah dicapai untuk hal-hal yang terkait penundaan pemberian minum, antara lain pada bayi prematur yang mengalami : asfiksia perinatal, hipoksia atau hipotensi, dan yang membutuhkan pemasangan ventilator. Pada kelompok bayi-bayi ini mempunyai resiko tinggi untuk mengalami intoleransi feeding enteral dan NEC. Tujuan utama pemberian feeding selama periode ini adalah untuk mencukupi kebutuhan substrat energi untuk mencegah kehilangan berat badan dan mencegah terjadinya defisiensi vitamin dan atau mineral. Bayi prematur yang tidak mendapatkan intake energi, karbohidrat, protein, lemak dan mineral sesuai yang direkomendasikan, akan mempunyai resiko tinggi mengalami gagal tumbuh atau keterlambatan tumbuh kembang. Periode ini merupakan masa antara lahir sampai dimulainya proses penambahan berat badan bayi, umumnya terjadi pada hari ke 7 – 10 post natal. Pada periode ini ditandai dengan adanya resiko tinggi untuk mengalami ketidak seimbangan (overload atau defisit) cairan, elektrolit dan zat-zat metabolik. Masukan nutrisi diberikan secara kombinasi parenteral dan enteral. Tingkat kebutuhan nutrisi pada periode ini sangat bervariasi tergantung dari perbedaan maturitas bayi, variabilitas toleransi enteral dan adanya penyakit-penyakit masa neonatal. Konsekuensinya, selama periode ini tidak dapat dibuat rekomendasi yang berbasis bukti spesifik mengenai komposisi formula dan kapan saat yang tepat sebagai awal pemberian minum. Kesepakatan umum hanyalah dicapai untuk hal-hal yang terkait penundaan pemberian minum, antara lain pada bayi prematur yang mengalami : asfiksia perinatal, hipoksia atau hipotensi, dan yang membutuhkan pemasangan ventilator. Pada kelompok bayi-bayi ini mempunyai resiko tinggi untuk mengalami intoleransi feeding enteral dan NEC. Tujuan utama pemberian feeding selama periode ini adalah untuk mencukupi kebutuhan substrat energi untuk mencegah kehilangan berat badan dan mencegah terjadinya defisiensi vitamin dan atau mineral. Bayi prematur yang tidak mendapatkan intake energi, karbohidrat, protein, lemak dan mineral sesuai yang direkomendasikan, akan mempunyai resiko tinggi mengalami gagal tumbuh atau keterlambatan tumbuh kembang.

Energi. Kalori yang direkomendasikan pada periode transisi ini adalah 60-70 Kcal/kgBB. Kalori sebesar ini hanya untuk mencukupi kebutuhan menjaga keseimbangan kehilangan energi, yang digunakan untuk : resting energy expenditure (45-55 kcal/kg), gerak dan termoregulasi (10-15 kcal/kg), dan pertumbuhan sel / jaringan (5-10 kcal/kg). Sehingga, pemberian kalori sebatas yang direkomendasikan ini tidaklah mencukupi untuk kebutuhan peningkatan berat badan bayi. Suplai energi dianjurkan melalui larutan konsentrat untuk memperpendek masa perawatan di rumah sakit.
Glukosa. Suplai glukosa mempunyai peran yang sangat menentukan survival bayi, mengingat organ-organ vital seperti otak, jantung, hepar dan ginjal sangat tergantung adanya oksidasi glukosa. Bayi prematur mempunyai cadangan glikogen hati yang sangat terbatas. Suplai glukosa dari ibu ke janin akan terputus segera setelah bayi lahir, dan konsentrasi glukosa bayi akan mengalami penurunan. Selama beberapa jam post-natal, suplai glukosa bisa didapat dari cadangan glikogen yang terbatas. Cadangan energi yang berasal dari lemak dan protein juga sangat terbatas, dan akan habis dalam waktu 4-7 hari tergantung berat badan lahir dan derajat katabolisme yang terjadi. Pemberian glukosa parenteral 4-6 mg/kg/menit segera setelah lahir, selain berfungsi menurunkan resiko hipoglikemia namun juga dapat memenuhi kebutuhan energi untuk mencegah proses katabolisme otot lebih lanjut.
Beberapa bayi mungkin membutuhkan suplai lebih tinggi, 8-10 mg/kg/menit untuk dapat mempertahankan kadar glukosanya secara konstan. Hiperglikemia dapat terjadi apabila bayi mengalami stress atau toleransi metabolic yang berlebihan. Alternatif untuk mencegah komplikasi ini, selain dengan menurunkan suplai karbohidrat, juga dengan penambahan asam amino parenteral atau pemberian insulin secara infus kontinyu. Pemberian lipid 20% parenteral secara dini juga dapat membatasi penggunaan glukosa sebagai sumber energi. Bahkan pemberian feeding secara enteral dalam jumlah yang sedikit saja dapat memperbaiki toleransi glukosa dengan menstimulasi peptida-peptida dan hormon-hormon saluran cerna.

Cairan. Pada periode transisi, bayi prematur mempunyai kemampuan yang sangat terbatas untuk mempertahankan keseimbangan cairan tubuhnya. Umumnya semakin kecil bayi maka semakin besar kecenderungan untuk kehilangan cairan melalui proses evaporasi. Hal ini disebabkan karena struktur kulit yang imatur dan terbatasnya kemampuan ginjal untuk memproduksi urine. Manajemen cairan harus berlandaskan pada upaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan untuk mengganti kehilangan cairan (insensible water losses) yang sangat bervariasi antara satu bayi dengan lainnya, dengan kebutuhan intake cairan bebas untuk proses ekskresi asam dan zat-zat terlarut lainnya. Kegagalan memenuhi kebutuhan kehilangan cairan akan menyebabkan dehidrasi, dengan efek sekunder mengalami hipernatremia, hiperkalemia dan hiperglikemia. Penggunaan inkubator atau infant warmer dalam jangka lama beresiko meningkatkan terjadinya komplikasi selama manajemen pemberian cairan.

Asam amino dan Protein. Kebutuhan neonatus akan protein selalu mengalami re-estimasi sejak awal tahun 1900-an. Neonatus dapat menggunakan asam amino dengan sangat efisien untuk pembentukan protein dan proses pertumbuhan. Dibutuhkan intake protein sebesar 1,5-2 gr/kgBB/hari sejak hari pertama post-natal untuk mencegah katabolisme protein. Intake sebesar ini juga dapat mengurangi kehilangan nitrogen dan mempercepat terjadinya keseimbangan nitrogen positif. Pada periode transisi ini, bayi BBLSR membutuhkan intake protein 3,5 – 4 gr/kgBB/hari. Bayi prematur tidak hanya membutuhkan asam amino lebih tinggi dari bayi aterm, namun juga lebih membutuhkan asam-asam amino spesifik yang jarang dibutuhkan oleh bayi aterm. BBLSR tidak dapat membentuk asam amino sistein, taurin, tirosin, histidin dan arginin dalam jumlah yang mencukupi. Sehingga, pada bayi prematur asam-asam amino ini harus didapat melalui cara tertentu. Larutan asam amino yang berbahan dasar L-asam amino lebih sesuai untuk bayi prematur, karena pada aminogram plasma memberikan gambaran yang menyerupai gambaran aminogram plasma bayi-bayi yang mendapat feeding ASI.

Semakin baik utilisasi protein maka semakin besar kenaikan berat badan yang dicapai dan semakin rendah resiko untuk terjadinya asidosis dan hiperammonemia. Pada bayi prematur < 34 minggu yang tidak mendapat feeding enteral selama satu minggu, harus dipertimbangkan penambahan asam amino sistein. Namun pemberian sistein Hcl pada usia 10 hari pertama akan meningkatkan resiko asidosis metabolik, sehingga untuk bayi BBLSR sampai usia 7-10 hari direkomendasikan mendapat supply sistein yang lebih rendah daripada rekomendasi untuk bayi normal. Kontroversi tingkat kebutuhan protein bayi prematur membawa dampak sekunder terjadinya juga kontroversi dalam hal tingkat kebutuhan lemak. 

Lipid. Pemberian lipid secara parenteral merupakan sumber utama asam-asam lemak esensial, karena terbatasnya intake enteral saat itu. Sebagai sumber energi, lipid dapat mengurangi pengunaan glukosa dan menghasilkan produksi CO2 lebih rendah dibandingkan daripada pemecahan glukosa (oksidasi fat 1 mol menghasilkan 0,7 mols CO2 untuk setiap mol penggunaan oksigen; sementara glukosa menghasilkan 1.0). Saat ini telah tersedia sediaan lipid untuk neonatus dalam bentuk emulsi dengan emulsifier berbahan dasar utama fosfolipid kuning telur. 

Tebalnya jaringan lemak subkutan bukan hanya sebagai sumber cadangan energi utama, tetapi juga berfungsi untuk melindungi bayi terhadap stress akibat perubahan suhu dan trauma mekanis. Bayi prematur mempunyai keterbatasan dalam hal aktivitas enzym lipase lipoprotein endothelial , yakni enzym yang berperan melepaskan asam-asam lemak dan gliserol dari emulsi lipid. Ratio fosfolipid (PL) dan trigliserida (TG) yang tinggi menyebabkan menurunnya uptake partikel-partikel lipid oleh reseptor-reseptor lipoprotein di hepar, dan berakibat terjadinya intoleransi lemak. Oleh karena itu, lipid dalam bentuk emulsi harus mempunyai rasio PL/TG yang sesuai dan diberikan secara parenteral perlahan dalam kurun waktu 24 jam. Langkah ini akan mencegah terjadinya klearens trigliserida plasma yang berlebihan, dan uptake / utilisasi asam lemak pada tingkat selular. Apabila tidak diberikan dengan langkah demikian, maka akan terjadi peningkatan trigliserida plasma yang dapat berefek negatif pada proses difusi tingkat pulmonal, aktivitas fagosit leukosit PMN dan atau fungsi trombosit.

Cara Pemberian Nutrisi. Nutrisi parenteral awalnya hanya terbatas pada pemenuhan nutrient glukosa dan cairan saja. Sampai pada akhir 1960 dapat dihasilkan larutan asam amino dan emulsi lipid intravena mulai digunakan secara luas pada tahun 1980-an. Sebagian besar bayi prematur mempunyai saluran cerna yang masih imatur, sehingga support nutrisi lebih sering membutuhkan nutrisi parenteral total (TPN). Walau demikian, TPN masih mengandung resiko untuk terjadinya infeksi, atrofi mukosa, kerusakan hepar dan kholestasis, serta osteopenia of prematurity akibat penggunaan TPN jangka lama. Sehingga, salah satu upaya support nutrisi pada bayi prematur adalah sedapat mungkin mempersingkat masa pemberian TPN dan mengupayakan pemberian nutrisi secara total enteral secepat mungkin. Pada periode transisi, memang TPN adalah sumber utama untuk pemenuhan nutrisi, dan harus segera dimulai paling tidak dalam 48 jam pertama setelah lahir. 

Feeding enteral dalam jumlah minimal dengan ASI yang diberikan melalui NGT adalah cara yang paling dianjurkan untuk mengawali dimulainya feeding enteral pada periode ini. Colustrum yang diberikan dalam jumlah yang sangat minimal (1 cc setiap 2-4 jam) sedini mungkin, jelas tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang optimal. Namun pemberian sejumlah kecil colustrum dipandang mampu merangsang bekerjanya fungsi absorpsi dan digesti saluran cerna untuk mengawali strategi pemberian nutrisi enteral selanjutnya. Tujuan utama pemberian feeding di saat dini ini adalah untuk mencegah terjadinya atrofi mukosa saluran cerna, sehingga akan mempercepat bayi dapat menerima feeding enteral secara penuh. Namun demikian, bayi harus tetap dilakukan monitoring ketat untuk terjadinya efek yang tidak diinginkan terutama tanda-tanda awal terjadinya NEC, tidak tergantung strategi feeding yang digunakan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Dalam Lingkaran Kami