Rabu, 15 Mei 2013

Kontroversi Pemberian Nutrisi Pada Bayi Prematur

Dalam dua dasawarsa akhir, terjadi pergeseran yang cukup bermakna mengenai fokus pemahaman pemberian nutrisi pada bayi prematur. Salahsatu alasan penting yang mendasari adanya perubahan ini adalah semakin terkumpulnya bukti-bukti ilmiah bahwa pemberian nutrisi awal post-natal mempunyai dampak biologis tidak hanya semata sebagai pemenuhan kebutuhan hidup bayi saat itu saja, melainkan yang tidak kalah penting adalah pengaruh jangka panjang terhadap kualitas pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun kognitif. Namun demikian, sebagian besar riset tentang nutrisi post-natal untuk bayi prematur belum sepenuhnya dapat diterapkan secara klinis praktis, mengingat metodologi penelitiannya masih terfokuskan pada tinjauan aspek-aspek fisiologis dan epidemiologis. Untuk dapat diterapkan secara definitif secara klinis masih dibutuhkan evaluasi manajemen nutrisional yang lebih spesifik tentang resiko jangka pendek (safety) maupun keuntungan jangka pendek dan jangka panjangnya (efficacy) dari penelitian intervensional yang bersifat randomized control. 

Elemen investigasi dimasa mendatang yang menjadi perhatian utama para ahli dibidang pediatric nutrition, secara perspektif klinis dan atau biologis, adalah adanya studi dampak nutrisi awal post-natal yang berpotensi mempengaruhi kualitas outcome jangka panjang. Penelitian dibidang ‘nutritional programming’ untuk bayi baru lahir, yang dimulai awal tahun 1980-an, menunjukkan bahwa nutrisi bayi prematur sangat berbeda dari segi content. Paling tidak selama kurun waktu 4 minggu awal kehidupannya, apabila bayi prematur hanya diberikan formula standart akan berada pada status nutrisi yang sub-optimal. Hal ini ternyata mempunyai dampak yang tidak menguntungkan pada aspek neurodevelopmental dikemudian hari. Salahsatu bukti ilmiah yang mendukung adalah pada bayi prematur yang mendapat ASI, apabila dibandingkan dengan yang mendapat susu formula, didapatkan peningkatan mineralisasi tulang pada 5 tahun kemudian. Penelitian ini masih dalam tahap penelusuran lebih lanjut sampai usia 9-12 tahun.


Stimulus yang diberikan pada bayi selama periode kritis selama tahapan perkembangannya mempunyai pengaruh jangka panjang dan permanen dalam pembentukan struktur maupun fungsi tubuhnya.Pada bayi aterm, adanya gangguan pertumbuhan pada beberapa bulan pertama post-natal akan berakibat penurunan development score sebesar 10 point saat usia 15 bulan.Namun sampai saat ini belum ada studi komparatif mengenai hal ini untuk bayi-bayi prematur.

Studi intervensi nutritional pada bayi prematur membuktikan bahwa pertambahan berat badan pada bulan-bulan pertama post-natal mempunyai keterkaitan erat dengan maturasi fungsi kognitif dikemudian hari. Setiap penambahan berat badan 100 gram saat usia 9 bulan, akan terjadi kenaikan 0,3 points untuk IQ verbal dan 0,2 point untuk skor IQ membaca.
Demikian pula kemungkinan dampak jangka panjang di bidang system imunitas dan penyakit-penyakit atopik yang lain, sampai saat ini masih dalam tahap evaluasi jangka panjang.

Pergeseran fokus pemahaman nutrisi bayi prematur ini mempunyai implikasi harus dapat menguak beberapa aspek dasar, antara lain: Aspek Biologis, bagaimana mekanisme kerja ‘early nutritional programming’, baik pada sistem antar organ yang terintegrasi maupun pada tingkat selular. Aspek Klinis, bagaimana safety dan efficacy jangka pendek maupun jangka panjang-nya secara klinis. Pemahaman kedua aspek ini akan meminimalisir kontroversi yang selama ini terjadi pada penerapannya secara klinis praktis.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Dalam Lingkaran Kami