Senin, 06 Mei 2013

Nutrisi Dan Feeding Bayi Prematur (Trend Masa Kini)

Aspek pemenuhan nutrisi untuk bayi prematur sampai saat ini merupakan sebuah tantangan besar bagi neonatolog dan ahli gizi anak. Keinginan untuk meningkatkan survival bayi prematur dengan berat badan yang semakin rendah, sangat membutuhkan : a) manajemen nutrisi yang optimal untuk bayi prematur dengan BBLSR (VLBW) atau BBLASR (ELBW), yang berlandaskan bukti ilmiah dan pengalaman klinis. b). studi kontrol klinis jangka panjang mengenai safety dan efficacy.

Pemenuhan nutrisi yang optimal untuk bayi prematur memberikan kontribusi bermakna dalam hal proses pemulihan penyakit-penyakit masa neonatal, masa perawatan di rumah sakit, dan pemenuhan substrat-substrat biologis yang dibutuhkan untuk pertumbuhan otak dan jaringan saraf. Untuk mencapai tingkat pertumbuhan normal bukanlah hal yang mudah bagi bayi prematur, mengingat adanya faktor imaturitas saluran cerna, hambatan-hambatan untuk proses adaptasi zat-zat metabolik dan adanya kondisi-kondisi patologis masa neonatal.

Rekomendasi besarnya intake nutrient baik enteral atau parenteral pada bayi prematur umumnya berdasarkan atas angka kebutuhan untuk dapat mencapai tingkat tumbuh kembang yang optimal. Selain itu harus dipertimbangkan juga resiko terjadinya keadaan patologis sebagai akibat defisiensi atau bahkan kelebihan nutrient tertentu. Informasi yang didukung bukti ilmiah mengenai tingkat kebutuhan nutrisi bayi prematur, terutama bayi BBLASR, sangat terbatas untuk beberapa nutrient spesifik. Kalaupun ada, maka rekomendasi tersebut umumnya berdasar atas kebutuhan populasi dan seringkali sulit diterapkan secara spesifik individual pada bayi prematur yang mengalami kondisi tertentu yang mengalami keterbatasan absorpsi / utilisasi nutrient dan atau intoleransi metabolik. Sehingga, pemberian nutrisi yang sesuai range rekomendasi pada satu bayi mungkin tidak dapat mencukupi tingkat kebutuhannya, dan sebaliknya pada bayi lain dapat berpotensi timbulnya efek toksik. Bayi prematur, baik yang BBLR, BBLSR atau BBLASR, mempunyai tingkat kebutuhan yang tidak homogen pada setiap kelompok berat badannya. Dengan demikian pemenuhan nutrisi haruslah bersifat individual dengan mempertimbangkan adanya factor-faktor : toleransi dalam hal feeding dan metabolik, kondisi patologis saat itu, tingkat kebutuhan spesifik yang terkait dengan tahapan perkembangan yang dialami bayi saat itu.

Tiga tahapan masa perkembangan post-natal yang harus dipertimbangkan sebagai dasar besarnya tingkat pemenuhan nutisi pada bayi prematur adalah :

  1. Periode transisi (Lahir – usia 10 hari) 
  2. Periode pertumbuhan awal (usia 10 hari – saat keluar rumah sakit) 
  3. Periode setelah keluar rumah sakit (post discharge) 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Dalam Lingkaran Kami