Rabu, 15 Mei 2013

Penatalaksanaan Penyakit Hirschprung Pada Neonatus

1. Tindakan Konservatif Non Bedah 
  • Perhatian utama dalam tindakan konservatif adalam untuk membantu menjaga kondisi neonatus agar tetap   stabil tidak kembung. Saat gejala terdeteksi pada sebagian pasien diperlukan dekompresi dan evakuasi feses sebagai langkah awal perawatan.  Dekompresi pada neonatus dapat dimulai dengan memasang nasogastric tube serta melakukan pengosongan di rectum. Bila segmen aganglionernya tidak panjang dilakukan pemasangan pipa rectum dan pembilasan dengan normal salin secara berkala. Bila segmen aganglionernya panjang maka dilakukan kolostomi proksimal dari daerah transisional.
  • Tindakan konservatif juga dilakukan untuk persiapan tindakan operatif. Diet cair, antibiotika untuk gram positif, gram negatif dan anaerob, serta pengambilan informed concern dan lain-lain persyaratan medikolegalnya dapat dilakukan secara simultan 
2. Tindakan Bedah Sementara 
  • Perhatian utama tetap untuk menjaga kondisi neonatus dalam keadaan stabil. Setelah diagnosis ditegakkan bila segment aganglinernya panjang dan tindakan konservatif gagal, dipikirkan membuat stoma dengan tujuan utamanya untuk melakukan dekompresi dan mengalihkan aliran feses sementara. Dengan kolostomi ini dapat dicegah terjadinya enterokolitis, represi kolon yang dilatasi, serta mempermudah tindakan bedah definitif nantinya. 
  •  Pasien neonatus, tindakan kolostomi harus dilakukan dengan tujuan untuk dekompresi. Kolostomi akan dapat menghilangkan obstruksi usus untuk sementara dan mencegah terjadinya enterokolitis. Enterokolitis yang timbul sebelum dilakukannya tindakan dekompresi cenderung akan timbul kembali setelah prosedur bedah definitif, dan dapat berakhir dengan kematian. Selain itu, kondisi gizi juga akan membaik setelah dilakukannya kolostomi. Kondisi gizi yang baik sangat berpengaruh terhadap keberhasilan operasi definitif penyakit Hirschrpung. 
  • Sebelum melakukan kolostomi, usus harus dibersihkan. Antibiotik diberikan secara intravena 30 menit sebelum operasi. Dipasang kateter uretral guna mendapatkan dekompresi bladder selama operasi. 
3. Tindakan Bedah Definitif 

Sebelum dilakukannya prosedur bedah definitif, beberapa hal harus dijadikan pertimbangan, yatiu : 

a. Kondisi penderita 
  • Neonatus; penderita neonatus juga harus dibedakan berat lahirnya. Neonatus aterm dengan berat badan  lahir > 2500 gram, segment aganlionosis tidak melebihi sigmoid dapat dilakukan operasi definitif satu tahap dengan sebelumnya dilakukan threapi konservatif cara yang benar. 
  • Anak, pada usia ini kolon sudah mengalami penebalan dan melebar maka tindakan kolostomi mutlak harus dikerjakan untuk mengalihkan aliran feses, setelah kolon involusi barulah dilakukan operasi definitif. 
  • Kolitis, merupakan kelainan yang selalui menghantui penderita penyakit Hirschprung terlebih jika sudah terjadi saat pra bedah maka tindakan spooling dan dekompresi yang adekuat harus dikerjakan dan disusul kolostomi. 
  •  Gizi, kondisi gizi sangat berpengaruh pada keberhasilan operasi penyakit Hirschprung, kondisi ini biasanya akan membaik setelah dilakukan kolostomi. 
  • Kelainan bawaan lain, yang sering menyertai penyakit hirschrpung adalah Mongolism/kelainan-kelainan kromosom, kelainan jantung bawaan. 

b. Fasilitas yang tersedia sangat mempengaruhi kinerja serta teknik apa yang akan kita pilih untuk pembedahan penyakit Hirschprung, fasilitas tersebut meliputi : 
  •  Fasilitas diagnostik, minimal fasilitas untuk foto kolon dan pemeriksaan PA harus tersedia, 
  • Fasilitas perawatan, mulai dari NICU, PICU bangsal bayi dan anak 
  • Fasilitas kamar operasi 
  • Melakukan persiapan pre operasi dengan baik, meliputi : 

* Tanpa Kolostomi : 
Lakukan lavement PZ hangat 10 – 15 cc/kg berat badan bahkan ada yang sampai 1,5 liter pagi, sore selama 1-2 minggu pra bedah, terakhir adalah 12-24 jam sebelum jam operasi (sehabis lavement rectal tube jangan dilemas sampai perut kempis atau semua PZ keluar). 

*Dengan Kolostomi : 
Lakukan colok dubur dan irrigáis loop distal dari kolostomi tiap minggu untuk mencegah atrofi, selanjutnya lavement loop proksimal dan distal 3 – 5 hari pra bedah. 

*Diet cair 24 jam pra bedah 

* Antibiótica para bedah untuk gram positif, gram negatif dan anaerob. 

* Informed concern dan lain-lain persyaratan medikolegalnya. 

Prosedur Bedah definitif 
Prosedur bedah definitif banyak cara sudah dikerjakan, mulai myectomi baik anterior atau posterior myectomy, teknik terabas tarik (Pull Through). Khusus teknik terabas tarik ini banyak teknik yang dikenal dengan segala variasinya, serta banyak pendekatan (approach), yang dipakai baik secara laparotomy, laparoskopi, trans anal. 

Teknik terabas tarik yang banyak dikenal adalah : 

1. Prosedur Swenson 

2. Prosedur Duhamel 

3. Prosedur Soave 

4. Prosedur Rehbein 

5. Prosedur bedah definitif melalui Laparoskopi 

6. Prosedur Soave satu tahap transanal 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Dalam Lingkaran Kami