Senin, 06 Mei 2013

Strategi pemberian nutrisi untuk pencegahan NEC


NEC merupakan komplikasi gastrointestinal tersering pada manajemen nutrisi bayi prematur (BBLLSR). Hampir 95% bayi yang mengalami NEC, adalah bayi-bayi yang mendapat feeding enteral. Hanya sedikit dari bayi-bayi tersebut mengalami NEC pada saat sebelum enteral feeding dimulai. Strategi pemberian nutrisi yang dapat menurunkan resiko terjadinya NEC dan mencapai toleransi feeding yang baik merupakan konsekuensi terpenting pada manajemen nutrisi bayi BBLSR. 

            Interaksi antara adanya infeksi, hipoksia , imaturitas saluran cerna dan feeding, merupakan faktor-faktor terpenting pemicu terjadinya NEC.[29] Substrat-substrat feeding yang tidak tercerna dan tidak terabsorbsi didalam saluran cerna dapat menghasilkan asam-asam organik dan makromolekul, serta memicu keluarnya radikal bebas (OxyR) dan bahan-bahan oksidatif yang kesemuanya berefek merusak integritas mukosa saluran cerna. Mekanisme dasar terjadinya NEC sampai saat ini masih menjadi perdebatan. Namun diyakini beberapa mediator pro/anti-inflamasi seperti TNF, IL-1, IL-6, IL-10, thromboxane (TBX), PAF, dan nitric oxide (NO), secara sinergis sangat berperan untuk mengaktifkan kaskade inflamasi yang berakibat rusaknya mekanisme perlindungan saluran cerna bayi prematur. Dengan demikian menjadi sangat rasional apabila strategi pemberian nutrisi bayi prematur untuk mencegah NEC adalah melakukan intervensi untuk memelihara integritas mukosa saluran cerna, yakni mengatasi hal-hal yang meliputi pencegahan hipoksia, infeksi, maldigesti nutrient, dan tunjangan perawatan klinis yang adekuat. 

            Strategi feeding yang bertujuan untuk memacu maturasi fungsi saluran cerna bayi prematur, dalam rangka untuk menurunkan resiko NEC meliputi :
1)      Pemberian steroid pre-natal. Beberapa studi membuktikan pemberian steroid saat pre-natal menurunkan resiko terjadinya NEC. Steroid diduga mempunyai efek positif yang terkait dengan maturasi membran mikrovili, memacu aktivitas enzym disakaridase dan proteolitik, dan meningkatkan aktivitas asetilhidrolase (anti PAF).[30,31]

2)      Minimal enteral feeding. Feeding minimal yang diberikan secara dini akan mencegah atrofi mukosa dan merangsang kerja hormon-hormon saluran cerna untuk kesiapan menerima feeding yang lebih banyak dikemudian hari. Masih banyak kontroversi untuk hal ini, terutama pada kasus bayi dibawah 1000 gram.

3)      Pemberian ASI. Multiple kontrol studi telah membuktikan bahwa pemberian ASI pada bayi prematur akan menurunkan resiko NEC. Selain terbukti mengandung beberapa faktor yang dapat memacu maturasi saluran cerna, ASI mempunyai factor-faktor imunitas pasif seperti IgA dan makrofag, dan beberapa faktor anti-mikrobial spesifik seperti laktoferin dan lisosyme.
4)      Pemberian antibiotika. Salah satu langkah intervensi untuk mencegah NEC adalah upaya menurunkan kolonisasi bakteri dan meningkatkan sistem pertahanan mukosa. Pemberian antibiotika oral akan menurunkan tingkat pertumbuhan bakteri, namun adanya kemungkinan terjadi resistensi menyebabkan alternatif ini tidak digunakan secara rutin untuk penggunaan jangka panjang. Resiko resistensi akibat antibiotika profilaksis ini tidak hanya mengenai populasi bayi yang beresiko NEC saja, tetapi mengenai seluruh  populasi bayi. Sehingga langkah ini dipandang tidak selalu praktis. Pemberian eritomisin dikatakan berguna untuk memperbaiki aktivitas kontraksi saluran cerna bagian atas. Pemberian eritromisin dengan dosis 12,5 mg/kg/dosis setiap 6 jam pada bayi BBLSR cukup efektif untuk mempercepat waktu penerimaan feeding enteral bayi prematur dengan disfungsi motilitas saluran cerna, dibandingkan kelompok kontrol.[32]

5)      Suplementasi probiotik. Alternatif lain untuk mengurangi kolonisasi bakteri patogen saluran cerna adalah dengan pemberian probiotik. Uji penggunaan probiotik pada binatang coba terbukti dapat menurunkan insidens NEC.[33,34] Namun efikasi probiotik untuk mencegah NEC pada bayi prematur masih kontroversi dan diperdebatkan sampai saat ini. Satu studi membuktikan pemberian probiotik campuran pada bayi yang dirawat di NICU akan menurunkan insidens NEC dibandingkan bayi yang tidak mendapatkan probiotik.[35]
6)      Suplemetentasi glutamin, arginin, asam nulkeat, nukleotida dan growth factors. Dasar pemikiran alternatif ini adalah rendahnya kadar glutamin dan atau arginin dapat melemahkan sistem imunitas, memicu atrofi mukosa,dan meningkatkan translokasi bakteri. Bayi BBLSR dengan NEC terbukti mempunyai kadar glutamin dan arginin yang rendah. Sampai saat ini, studi sistematik yang meneliti efikasi pemberian kedua asam amino ini masih dilakukan. Suplementasi L-arginin dalam nutrisi oral atau parenteral dilaporkan dapat menurunkan secara bermakna kasus NEC.[36] Bayi prematur BBLSR tidak mampu memproduksi nitric oxide (NO) dari arginin dalam jumlah yang cukup, karena rendahnya aktivitas enzym NO-synthetase. NO merupakan salah satu mediator anti-inflamasi dan vasodilator yang penting, yang mempunyai fungsi protektif pada mukosa saluran cerna. Dikarenakan masih adanya berbagai keterbatasan metodologi dan karakteristik sample uji pada studi-studi tersebut, menyebabkan validitas dan aplikasi klinis langkah alternatif ini masih menjadi perdebatan. 
 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Dalam Lingkaran Kami