Selasa, 07 Mei 2013

Upaya Penanganan Gizi Buruk dan Generasi yang’Hilang’


 balita yang memiliki status gizi buruk berisiko tinggi kehilangan sebagian potensinya untuk menjadi pekerja yang profesional karena rendahnya kemampuan intelektual anak. Krisis ekonomi yang melanda Indonesia dan mengakibatkan banyaknya buruh dan karyawan yang kehilangan pekerjaannya, menyebabkan turunnya daya beli pangan dan kesehatan keluarga. Akibatnya jutaan anak Indonesia kekurangan gizi dan tumbuh dengan kemampuan intelektual yang rendah. Akibat selanjutnya mereka tidak mampu bersaing untuk mendapatkan pekerjaan hal ini sering disebut dengan generasi yang hilang yaitu generasi dengan daya intelektual yang rendah (Tandyo, 1999). 

Sesuai dengan hukum Bennet, bahwa penurunan kualitas konsumsi pangan rumah tangga yang ditandai dengan keterbatasan membeli sumber makan protein hewani dan buah dapat berdampak buruk pada status gizi anak Balita dan wanita. Oleh karena itu menurut Soekirman (2000) jaring pengaman sosial bidang kesehatan (JPS-BK) yang memberikan subsidi kepada keluarga miskin dengan bantuan pengobatan di Puskesmas, bantuan makanan pendamping ASI (MP-ASI) bagi balita dan bantuan uang untuk makanan tambahan (PMT) bagi ibu hamil serta menggiatkan kembali fugsi (revitalisasi) Posyandu. Di bidang pendidikan diberikan bantuan bea siswa untuk anak sekolah keluarga miskin dan PMT anak sekolah (PMT-AS) yang telah dimulai sejak tahun 1996 dilanjutkan sebagai bagian dari JPS. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Dalam Lingkaran Kami