Selasa, 03 Juni 2014

Benarkah Diabetes Sudah Tidak Dapat Lagi Disembuhkan ?


Ada diabetes yang tidak dapat disembuhkan, ada juga diabetes yang dapat disembuhkan. Definisi “sembuh” dalam hal ini adalah kadar gula darah tetap normal sehingga tidak berlanjut menyebabkan komplikasi. 

Diabetes tipe 1 pada umumnya tidak dapat disembuhkan. Diabetes yang biasanya dimulai di usia anak-anak ini disebabkan oleh tidak diproduksinya insulin karena sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang dan menghancurkan sel-sel pankreas (disebut sel beta) yang menghasilkan insulin. Penderita diabetes tipe 1 harus menyuntikkan insulin secara rutin agar bertahan hidup. 

Sebaliknya, diabetes tipe 2 bisa disembuhkan asalkan belum terlanjur parah. Penyembuhan diabetes lebih dikenal sebagai pembalikan (reversing), yaitu membalikkan perkembangan penyakit ke posisi sebelum diabetes. Istilah pembalikan ini lebih disukai daripada penyembuhan karena diabetes tipe 2 adalah penyakit progresif, yang semakin lama semakin parah bila tidak dikelola. Selain itu, penyakit ini bukan disebabkan oleh suatu infeksi atau penyebab tertentu yang bisa diobati lalu kemudian sembuh total. Diabetes tipe 2 bisa diibaratkan seperti istri atau suami yang pencemburu. Dia akan selalu setia menemani Anda dan akan “rewel” minta perhatian apabila Anda tidak menjalani hidup sesuai kemauannya! 
Bagaimana diabetes 2 berkembang? 

Sebelum membahas bagaimana cara membalikkan diabetes tipe 2, mari kita pahami bagaimana diabetes tipe 2 berkembang. Penyebab paling umum dari diabetes tipe 2 adalah kelebihan berat badan, yang umumnya mengikuti pola lingkaran setan sbb: 
Anda terbiasa mengonsumsi makanan yang tinggi karbohidrat, lemak jenuh dan lemak trans, namun rendah serat, vitamin dan mineral. 
Asupan karbohidrat tinggi menyebabkan tubuh memacu produksi insulin yang berperan untuk memasukkan gula dalam darah sebagai sumber makanan ke dalam sel-sel. 
Kelebihan karbohidrat disimpan sebagai lemak di sekitar perut, termasuk di sekitar liver dan pankreas. 
Kadar insulin yang terus tinggi dan timbunan lemak menyebabkan sel-sel tubuh menjadi resisten terhadap insulin (diperlukan insulin lebih besar untuk memasukkan jumlah gula yang sama ke sel-sel tubuh). 
Resistensi insulin menyebabkan lonjakan kadar gula, terutama setelah makan. 
Pankreas memproduksi lebih banyak lagi insulin untuk mengatasi lonjakan kadar gula darah. 
Kadar gula yang tinggi di dalam darah menyebabkan perasaan lesu dan kadar insulin tinggi menyebabkan rasa lapar. 
Rasa lesu membuat malas beraktivitas dan rasa lapar sering mendorong makan berlebihan. 
Kurang aktivitas dan terlalu banyak makan menyebabkan penambahan berat badan dan meningkatkan resistensi insulin lebih lanjut. 
Sel-sel pankreas yang terus-menerus digenjot untuk memproduksi insulin ekstra akhirnya akan kelelahan dan kemudian rusak. 
Kelelahan dan kerusakan sel-sel pankreas ini menyebabkan produksi insulin menurun, dan kadar gula darah meningkat tajam, yang menyebabkan gejala diabetes seperti rasa lelah, haus, dan sering buang air kecil. 

Ingat bahwa meskipun kelebihan berat badan berkaitan erat dengan pengembangan diabetes tipe 2, tidak semua orang memiliki toleransi yang sama. Ada orang yang mengalami diabetes setelah BMI di atas 40, ada pula yang sudah timbul diabetesnya dengan BMI 25. (Karena tubuhnya berfungsi normal misalnya ketika BMI-nya di bawah 22). 
Memutus siklus perkembangan diabetes tipe 2 

Untuk membalikkan perkembangan diabetes, Anda harus memutus siklus di atas dengan beberapa langkah sbb: 
Pilih makanan yang ramah diabetes , yaitu yang tidak mengandung banyak karbohidrat dan karbohidratnya lebih lambat diserap oleh tubuh. Semakin sedikit karbohidrat yang Anda makan, semakin sedikit insulin yang tubuh Anda perlukan. Demikian pula, semakin lambat karbohidrat diserap, semakin santai kerja pankreas untuk memasok insulin. Cepat lambatnya karbohidrat dari suatu makanan diserap ke dalam darah diukur dengan apa yang disebut indeks glikemik. (Lihat artikel mengenai indeks glikemik). Sebagai pedoman mudah, pilihlah makanan yang tinggi serat, kaya buah-buahan dan sayuran berwarna-warni, dan rendah gula dan tepung. Batasi porsi nasi putih Anda, kalau bisa gantilah dengan nasi beras merah atau ubi-ubian berserat. Hindari makanan yang mengandung tepung putih seperti roti, sereal dan kue-kue. Begitu pula semua makanan yang mengandung sirup fruktosa, pemanis buatan (aspartam, sorbitol , dll), dan minyak terhidrogenasi (yang menjadi asam lemak trans dalam aliran darah), seperti kebanyakan kerupuk, keripik dan keju olahan. 
Aturlah waktu makan Anda. Pilih makanan yang kaya protein untuk sarapan Anda setiap hari, seperti telur, susu kedelai, tahu dan tempe. Ambil kudapan ramah diabetes setiap 4 jam untuk menjaga kadar insulin dan glukosa darah normal dan mencegah lonjakan glukosa karena “makan besar” Anda terlalu banyak. Selesaikan makan setidaknya 2 – 3 jam sebelum tidur. 
Lakukan kegiatan fisik/olah raga secara teratur. Lakukan latihan aerobik 30-60 menit, 5- 6 kali seminggu. Latihan Anda harus cukup intensif sehingga mencapai target denyut jantung latihan yang disarankan. (Untuk menghitungnya, silakan gunakan kalkulator ini). Olahraga dan aktivitas fisik akan membakar lemak dan menurunkan resistensi insulin. Selain itu, tentu saja, juga baik untuk kesehatan Anda secara umum. 
Kelola stres. Stres berperan besar dalam ketidakseimbangan gula darah. Stres dapat memicu resistensi insulin, meningkatkan berat badan, meningkatkan peradangan, dan akhirnya dapat menyebabkan diabetes . Jadi sangat penting untuk mengelola stres dengan berbagai teknik seperti beribadah, pijat, latihan pernapasan, menikmati hobi, dll. 
Gunakan obat jika diperlukan. Sejumlah obat dapat membantu membalikkan diabetes. Ada beberapa jenis obat-obatan untuk diabetes, masing-masing dengan efek berbeda. Kadang-kadang dokter meresepkan obat kombinasi. Obat kelas biguanida seperti metformin berkhasiat meningkatkan sensitivitas insulin. Obat kelas sulfonilurea seperti Glibenklamida berkhasiat merangsang produksi insulin oleh pankreas. Obat-obatan ini dapat berdampak buruk dalam jangka panjang sehingga pemberiannya harus dengan pengawasan dokter. 
Artikel/Konsultasi Terkait 






sumber: www.majalahkesehatan.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Dalam Lingkaran Kami